Eksplorasi Mikrotonalitas Gamelan Bali dalam Aroma Inovasi Musik Dunia

16 hours ago 2
ARTICLE AD BOX
Masterclass (Lokacipta) ini menampilkan dua narasumber utama, yakni komponis dan peneliti musik Septian Dwicahyo serta gitaris klasik Putu Lia Veranika. Keduanya membedah fenomena mikrotonalitas—yakni penggunaan interval nada yang lebih kecil dari semitone—sebagai jembatan antara musik tradisi dan modern, antara Timur dan Barat.

Gamelan Bali dan Mikrotonalitas

Menurut Septian Dwicahyo, gamelan Bali secara alami memiliki sifat mikrotonal melalui sistem pelarasan non-equal temperament, yakni sistem laras pelog dan slendro. “Fenomena ini bukan hanya milik abad ke-20 atau Eropa semata,” ujarnya. 

Ia menambahkan, bahkan dalam sejarah musik Barat, tokoh seperti Delusse dan Vicentino telah menyinggung hal serupa jauh sebelum era modern.

Dalam konteks kekinian, lanjut Septian, eksplorasi mikrotonal dilakukan melalui pemanfaatan overtone series pada gamelan, modifikasi laras, hingga penciptaan gamelan baru yang menawarkan sistem pelarasan eksperimental.

Diskusi semakin menarik saat menyinggung karya berjudul Gongan oleh gitaris asal AS, William Kanengiser. Komposisi ini ditulis untuk empat gitar klasik yang dipersiapkan secara khusus menggunakan penjepit dasi dan klip logam. Hasilnya, suara gitar menyerupai bunyi gamelan Bali.

“Gongan menghadirkan rasa Bali, aroma Amerika,” terang Septian. Komposisi tersebut meniru elemen-elemen khas gamelan seperti imbal-imbalan, kotekan, hingga pembuka ala gaya kebyar. Namun, pendekatan penciptaannya mengandalkan struktur komposisi Barat yang lebih sistematis dibanding spontanitas dalam garapan gamelan tradisi.


Pengaruh Musik Tradisi dalam Era Modern

Sementara itu, Putu Lia Veranika membahas posisi musik mikrotonal dalam kesejarahan musik Barat. Menurutnya, era modern menjadi masa eksplorasi bunyi yang meluas, mulai dari eksperimen ritme, penggunaan melodi cluster, hingga munculnya musik elektronik.

“Komponis seperti John Cage dan Karlheinz Stockhausen mengeksplorasi bunyi dengan cara non-tradisional. Bahkan dalam musik gitar klasik pun muncul teknik prepared guitar yang menggunakan benda asing pada dawai untuk menciptakan suara baru,” jelas gitaris yang sempat menimba ilmu di Aspen Music Festival, Colorado, AS.

Lia menambahkan, banyak komponis kontemporer juga menciptakan karya berdasarkan musik tradisional. Ia mencontohkan karya Choros No.1 oleh Heitor Villa-Lobos yang terinspirasi dari ritme Choro khas Brazil dan La Espiral Eterna oleh Leo Brouwer dari Kuba yang menggabungkan teknik aleatoric dengan ritme Afro-Kuba.

Mi-Reng Festival yang dibuka pada Rabu (2/4) hingga Senin (14/4), menjadi ajang penting bagi seniman muda untuk berekspresi sekaligus mempertahankan relevansi gamelan dalam era modern. Festival ini diselenggarakan oleh komunitas Mi-Reng, dengan dukungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, LPDP, serta kerja sama Bentara Budaya Bali.
Kurator festival, Wayan Gde Yudane dan Warih Wisatsana, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Septian menilai Mi-Reng sebagai ruang strategis bagi pembaruan gamelan. “Beda zaman, beda eksplorasi. Dulu pakai Nokia, sekarang smartphone. Musik pun demikian. Akan terus berkembang,” tegasnya.

Lia juga menyambut positif festival ini sebagai ajang tukar pikiran, terutama antara musisi tradisi dan modern. “Lewat forum ini kita saling belajar, saling menginspirasi,” pungkasnya.



Read Entire Article