ST Watugunung Usung Mahabharata, Pembuktian pelestarian Tradisi dan Budaya

2 weeks ago 3
ARTICLE AD BOX
Ketua Panitia Pengerupukan ST Watugunung, I Putu Krisna Dipayana Putra (23), mengatakan ogoh-ogoh telah mulai dikerjakan sejak 15 Desember 2024.

"Biaya ogoh-ogoh tahun ini kami anggarkan sebesar Rp50 juta, sudah termasuk kebutuhan hingga hari pementasan," ungkap Krisna.

Ogoh-ogoh bertema Mahabharata tersebut menampilkan lima karakter ikonik: Krisna, Begawan Ramaparasu, Sengkuni, Duryodana, dan Karna. 

Lebih dari sekadar visualisasi seni, Krisna menekankan pentingnya pelestarian nilai tradisi, termasuk melalui pengiring musik gamelan dan pertunjukan tari. ST Watugunung sendiri telah mempersiapkan iringan gamelan Baleganjur yang telah berlatih secara rutin selama tiga bulan terakhir.


"Kami rasa Pengerupukan bukan hanya menampilkan kreativitas lewat ogoh-ogoh, tapi juga melalui iringan gamelan dan tari-tarian. Untuk yang belum punya gamelan, bisa bergabung dengan kelompok lain atau gunakan instrumen tradisional seperti kulkul," sarannya.

Menanggapi fenomena penggunaan sound system yang kerap menjadi sorotan saat malam Pengerupukan, Krisna menyatakan dukungannya terhadap penggunaan yang proporsional.

"Sound system sah-sah saja asal digunakan untuk hal positif, misalnya sebagai alat bantu dalang atau MC saat pementasan. Tapi iringan gamelan sebaiknya tetap dimainkan secara langsung agar tidak mengurangi nilai budaya dan seni tradisi kita," ujarnya.

Krisna juga mengapresiasi perkembangan seni ogoh-ogoh dari tahun ke tahun yang menurutnya semakin inovatif dan detail berkat dukungan teknologi serta semangat gotong royong yang tetap terjaga. Ia menilai media sosial turut memberi ruang ekspos yang luas bagi kreativitas anak-anak muda Bali.

Tak kalah penting, Krisna menegaskan bahwa ST Watugunung kini kembali menggunakan bahan ramah lingkungan dalam pembuatan ogoh-ogoh, seperti bambu, kertas bekas, dan ulat-ulatan (anyaman dari daun).

“Dulu kami juga pakai gabus, tapi susah dikerjakan sendiri. Kalau pakai bambu, bisa gotong royong. Jadi, bahan ramah lingkungan tidak hanya jaga alam, tapi juga memperkuat kebersamaan,” ujarnya.

Untuk menjaga keamanan ogoh-ogoh menjelang malam pementasan, pihaknya telah menerapkan sistem jaga bergilir serta memasang CCTV di sekitar lokasi pembuatan.

Meski tahun ini tidak ada lomba ogoh-ogoh tingkat provinsi, Krisna mengaku pihaknya tetap antusias menyambut lomba tingkat Kabupaten Badung. Menurutnya, lomba ini menjadi ajang penting menunjukkan potensi dan dedikasi ST Watugunung dalam menjaga warisan budaya Bali.

"Kami melihat sejak 2022, setelah pandemi, semangat sekaa teruna di Badung luar biasa. Pemerintah juga terlihat terus mendukung. Harapan kami, dukungan itu tetap berlanjut, termasuk dalam bentuk dana untuk mendukung kreativitas kami,” tegasnya.

ST Watugunung pun bertekad menampilkan yang terbaik di malam Pengerupukan tahun ini, sekaligus  membuktikan bahwa generasi muda Bali siap menjaga dan mengembangkan warisan budaya secara berkelanjutan. *m03

Read Entire Article