ARTICLE AD BOX
Hari Nyepi dipandang sebagai saat penyelarasan antara mikrokosmos (bhuana alit), yaitu diri manusia, dan makrokosmos (bhuana agung), yaitu alam semesta. Selama Nyepi, umat Hindu di Bali khususnya tidak melakukan aktivitas fisik untuk menghindari gangguan terhadap harmoni alam, sekaligus menciptakan ruang untuk refleksi dan kontemplasi spiritual.
Secara kosmik, Nyepi menandai pergantian Tahun Baru Saka, yang dirayakan dengan hening total. Tidak seperti perayaan tahun baru lainnya yang meriah, umat Hindu memilih keheningan karena diyakini bahwa semesta juga sedang ‘beristirahat’ dan menyelaraskan energi baru. Dalam keheningan itu, energi negatif dari tahun sebelumnya dilebur, dan energi baru yang bersih mulai mengisi alam semesta. Hari Nyepi juga merepresentasikan konsep Rwa Bhineda (dualitas kosmik) – antara terang dan gelap, baik dan buruk, aktivitas dan keheningan. Dengan menghentikan semua aktivitas (amati geni, amati karya, amati lelungan, amati lelanguan), umat Hindu mengimbangi energi kehidupan yang biasanya penuh dinamika. Ini adalah bentuk rekalibrasi spiritual untuk mencapai keseimbangan hidup.
Sebelum Nyepi, ada ritual Tawur Kesanga, yakni persembahan untuk mengusir energi negatif (butakala) dari alam semesta. Secara kosmik, ini dimaksudkan agar energi adharma (kegelapan dan kekacauan) dilepaskan, dan yang tertinggal hanya energi dharma (kebaikan dan keseimbangan). Setelah itu, keheningan Nyepi menjadi ruang untuk pemurnian. Bagi banyak umat Hindu, Nyepi adalah hari untuk menyatu dengan semesta melalui tapa, yoga, dan semadi. Dalam keheningan, mereka menyatu dengan getaran kosmik (nada semesta) dan memohon petunjuk dari Hyang Widhi untuk memulai tahun baru dengan kesadaran yang lebih tinggi. Dengan tidak menyalakan api dan listrik, tidak bepergian, dan tidak menggunakan kendaraan, Hari Nyepi juga menciptakan ‘reset’ ekologis. Secara kosmik, ini adalah bentuk penghormatan kepada unsur-unsur alam seperti api (teja), air (apah), udara (bayu), tanah (pertiwi), dan ruang (akasa). Secara kosmik, Hari Nyepi adalah lebih dari sekadar libur atau tradisi; ini adalah momen penyucian semesta, penyelarasan antara manusia dan alam, serta ruang sakral untuk introspeksi spiritual. Dalam keheningan, umat Hindu percaya bahwa alam semesta sedang bernapas, menyembuhkan diri, dan memperbaharui siklus hidup.
Toleransi antarumat beragama menjadi sangat relevan ketika kita memahami keyakinan umat Hindu bahwa alam semesta sedang bernapas, menyembuhkan diri, dan memperbarui siklus hidup, khususnya pada momen sakral seperti Hari Nyepi. Hal ini menunjukkan bahwa hari itu bukan hanya penting bagi umat Hindu, tetapi berdampak pada seluruh makhluk hidup. Toleransi dari umat beragama lain—dengan menghormati keheningan, mengurangi kebisingan, atau menyesuaikan aktivitas—adalah bentuk kontribusi terhadap pemulihan dan keselarasan alam semesta. Ketika umat lain bersedia memahami bahwa Hari Nyepi adalah momen spiritual penting, mereka menunjukkan empati lintas iman. Ini memperkuat nilai toleransi karena semua agama pada dasarnya mengajarkan kedamaian, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap ciptaan Tuhan.
Kepercayaan bahwa alam semesta ‘menyembuhkan diri’ juga mengandung pesan ekologi. Ketika seluruh masyarakat, apapun agamanya, mendukung Nyepi sebagai hari tanpa polusi, tanpa bising, dan tanpa aktivitas industri, maka toleransi berubah menjadi aksi kolektif yang berdampak nyata bagi lingkungan. Toleransi terhadap perayaan seperti Nyepi mencerminkan kedewasaan sosial dan spiritual masyarakat. Di tengah keberagaman agama di Indonesia, saling memahami makna suci di balik setiap kepercayaan adalah kunci persatuan dalam perbedaan, sesuai dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Hari Nyepi yang hening bisa menjadi ruang kontemplatif juga bagi umat lain, tanpa harus mengikuti ajaran Hindu. Toleransi membuka kemungkinan bahwa keheningan itu bisa memberi manfaat spiritual universal—mengajak siapa saja untuk berhenti sejenak, merenung, dan menyatu dengan alam. Toleransi antarumat beragama bukan hanya soal kebebasan menjalankan ibadah masing-masing, tetapi juga menghormati keyakinan bahwa alam semesta adalah milik bersama yang layak dirawat, dihormati, dan dipahami dalam keberagaman nilai-nilai spiritual. Dengan memahami bahwa bagi umat Hindu, semesta sedang ‘bernapas dan memperbarui dirinya’, kita diajak untuk ikut menjaga harmoni, baik secara sosial maupun ekologis. 7