ARTICLE AD BOX
Di sisi lain, metode pengelolaan sampah yang tidak ramah lingkungan seperti tempat pembuangan akhir (TPA) masih dijadikan tumpuan menangani sampah di Bali. Selain tidak ramah lingkungan, metode primitif ini juga tidak enak dipandang mata dan menambah masalah seperti bau dan rentan kebakaran.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengingatkan, masalah kebersihan yang tidak kunjung tertangani akan berdampak buruk terhadap kunjungan pariwisata. Dampaknya memang tidak segera, namun lambat laun akan dirasakan.
Hal ini disampaikan Puspa saat menjadi pembicara kunci di seminar nasional ‘Pariwisata Budaya: Pengejawantahan Sumber Daya Tidak Berwujud’ yang diadakan serangkaian HUT Ke-50 Ikatan Alumni Universitas Udayana (Ikayana) di Dharmanegara Alaya, Denpasar, Sabtu (22/3/2025).
“Kami ingin mengajak destinasi ataupun daya tarik wisata, semua pengelolanya sadar, masalah kebersihan ini lama-lama akan memberikan pengaruh buruk terhadap kunjungan wisatawan,” ujar Puspa.
Isu kebersihan, dalam konteks ini pengelolaan sampah, menjadi salah satu flagship program Kemenpar yakni Gerakan Wisata Bersih. Di Bali, program ini pernah dieksekusi Kemenpar untuk merespons fenomena 'sampah kiriman' di pantai-pantai Badung selatan seperti Pantai Kedonganan.
“Sekarang sih belum terasa, tetapi beberapa tahun ke depan, kita akan kehilangan (kunjungan wisatawan) hanya perkara masalah sampah di destinasi wisata,” tegas Puspa, wakil menteri asal Buleleng yang bernama lahir Ni Luh Enik Ernawati ini.
Di seminar ini, Puspa juga menjelaskan bahwa Kemenpar menyeriusi isu kebersihan yang menghantui pariwisata ini. Di mana, Gerakan Wisata Bersih menjadi satu dari lima flagship program (program unggulan) Kemenpar tahun 2025 ini. *rat