Pria Asal Sulsel Dikeroyok Puluhan Orang

2 weeks ago 3
ARTICLE AD BOX
Dia dikeroyok oleh puluhan orang hingga babak belur. Dia dipukul, diseret, hingga diolok-olok. Kasus pengeroyokan ini diduga lantaran hanya gara-gara buang sampah sembarangan. 

Kepada NusaBali, pada Selasa (18/3) siang, Reza Pratama menceritakan peristiwa pengeroyokan terhadap dirinya itu terjadi di dua tempat. Pertama, di samping Gereja Mawar Sharon (GMS), Jalan Buana Kubu, Padangsambian, Denpasar Barat. Kedua, di Balai Banjar Buana Kubu. 

Lelaki asal Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) ini menceritakan, pada saat itu dia buang sampah di samping Gereja Mawar Sharon. Tiba-tiba datang sekitar 10 orang langsung menanyakan mengapa buang sampah di sana dan melakukan pemukulan secara beramai-ramai. Tak hanya ditinju dan ditendang, baju dan celananya dilepas paksa hingga tersisa celana dalam.

“Pada saat mereka pukul, saya tidak melawan. Saya memohon maaf dan minta jangan pukul. Saya juga bilang siap bayar denda karena buang sampah sembarangan. Namun, orang-orang itu tetap memukul saya,” ungkapnya. 

Tak puas menganiaya korban di pinggir jalan itu, para pelaku menyeret paksa korban ka Balai Banjar Buana Kubu yang sedang banyak orang kerja ogoh-ogoh. Di balai banjar itu jumlah pelaku yang menghajarnya pun bertambah. 

“Saya tidak tahu persis ada berapa orang lagi pukul saya saat di balai banjar. Mungkin puluhan orang. Saat itu saya hanya berzikir. Mereka bertindak sesukanya. Bahkan ada yang mau mencukur rambut saya. Ada pula yang olok-olok dengan mengatakan jangan bawa Tuhan,” katanya. 

Setelah pengeroyokan itu korban kemudian dilepas, tetapi motor dan KTP ditahan karena tak sanggup bayar denda Rp 5 juta. Setelah dilepas para pelaku, korban langsung pergi ke RS Bhanyakara Trijata Polda Bali untuk berobat. Kemudian, pada Minggu (17/3) malam buat laporan ke Polresta Denpasar.

“Mereka lepas saya pada Minggu (17/4) dini hari sekitar pukul 01.00 Wita. Saya langsung ke RS untuk berobat. Kemudian Minggu malam baru saya buat laporan di Polresta Denpasar,” lanjutnya. 

Reza Pratama mengaku dirinya datang merantau ke Bali karena baginya tanah Bali dan orang Bali adalah orang yang ramah. Namun, anggapannya itu semua seketika berubah menjadi Bali tidak baik. “Saat saya dikeroyok ada pemuka atau tokoh setempat yang lihat, namun mereka acuh tak acuh. Seolah-olah tindakan brutal itu dibenarkan oleh mereka. Padahal saya sudah mengaku salah, mohon maaf, dan siap bayar denda, tetapi tetap saja mereka bertindak tidak manusiawi,” bebernya.

Hingga, Selasa (18/3) siang kemarin dirinya belum menerima perkembangan hasil penyelidikan dari kepolisian. Dia berharap pihak kepolisian tidak mengabaikan kasus ini agar tidak dibenarkan oleh masyarakat lainnya. “Motor dan KTP saya ditahan karena tidak bayar denda Rp 5 juta sesuai aturan adat setempat. Padahal saya sudah mereka keroyok sampai babak belur,” katanya.

Sementara Kasu Humas Polresta Denpasar AKP I Ketut Sukadi, mengatakan laporan tersebut sedang ditangani Satreskrim. “Saya belum dapat detail kronologis kasusnya. Pastinya semua laporan dari masyarakat yang kita terima pasti ditindaklanjuti,” kata AKP Sukadi. 7 pol
Read Entire Article