Mengenal ‘Marong’, Sang Jawara Ogoh-Ogoh Terbaik di Desa Adat Kesiman

9 hours ago 3
ARTICLE AD BOX
Arsitek Ogoh-Ogoh ST Eka Jaya, I Made Ari Yuda, mengungkapkan bahwa proses pembuatan ogoh-ogoh ini memakan waktu sekitar tiga bulan dengan melibatkan seluruh anggota Sekaa Teruna.

“Kami berproses bersama selama tiga bulan. Tentu ada tantangan dan kekurangan yang harus diperbaiki, tetapi kami bersyukur dapat mempertahankan gelar juara tingkat Desa Adat Kesiman. Walaupun tahun ini belum masuk nominasi di tingkat Kota Denpasar, kami tetap bangga dengan hasil yang dicapai,” ujar Ari Yuda.

Mengusung Kisah Sejarah dan Filosofi

Tema "Marong" yang diangkat tahun ini menggambarkan pertarungan adu jangkrik antara Raja Kesiman dan Raja Sasak. Dalam kisahnya, Raja Sasak yang licik menggunakan jangkrik siluman untuk merebut wilayah Bali. Namun, Raja Kesiman mendapatkan pewisik (bisikan gaib) untuk mencari jangkrik khusus di sekitar Pantai Galak saat bulan purnama. Jangkrik tersebut bukan sembarangan, karena saat diadu, jangkrik milik Raja Kesiman berubah menjadi sosok Banaspati Raja dan berhasil mengalahkan siluman jangkrik milik Raja Sasak.

“Pada ogoh-ogoh ini, kami menggambarkan Barong sebagai raja hutan dengan bentuk singa berbulu nyimbar yang realistis. Tantangan terbesar dalam pembuatan ogoh-ogoh ini adalah pada komposisi dan tata letaknya, sehingga memerlukan teknik bongkar pasang yang presisi,” jelas Ari Yuda.

Proses Kreatif dan Tantangan

Pengerjaan ogoh-ogoh ini memakan anggaran sekitar Rp 77 juta. Awalnya, pengerjaan dilakukan di tanah kosong dekat lingkungan banjar, namun karena kondisi cuaca yang tidak mendukung, proses pengerjaan kemudian dipindahkan ke Banjar setelah mencapai tahap 30 persen.

“Saya pribadi tertarik untuk selalu mengangkat tokoh binatang dalam ogoh-ogoh, kecuali pada tahun 2018 ketika kami membuat tokoh Dewa Ganesha,” tambah Ari Yuda.

Sebagai bagian dari generasi muda yang aktif dalam pelestarian budaya, Ari Yuda berharap agar Bali tetap aman dan kondusif, tidak hanya saat Hari Raya Nyepi tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga masyarakat selalu rahayu dan sehat, baik secara jasmani maupun rohani,” tutupnya.

Dengan kemenangan ini, ST Eka Jaya kembali membuktikan eksistensinya dalam seni ogoh-ogoh dan memperkuat identitas budaya di Desa Adat Kesiman. *m03

Read Entire Article