Mang Gases Ungkap Alasan Ogoh-Ogoh ‘Bagus’ Tidak Masuk 16 Besar Kasanga Fest 2025

2 weeks ago 3
ARTICLE AD BOX
Perwakilan Dewan Juri Kasanga Fest yakni Dr Komang Indra Wirawan SSn MFilH alias Mang Gases menjawab rasa penasaran warganet yang sudah sering muncul dari tahun ke tahun pelaksanaan festival yang dimotori Pasikian Yowana Kota Denpasar ini.

Mang Gases menuturkan, ogoh-ogoh dari 254 sekaa teruna telah mengikuti penilaian Kasanga Fest 2025. Ia menegaskan, 90 persen dari ratusan peserta tersebut mampu memikat perhatian dewan juri. Namun, ketika dikaitkan dengan konteks lomba, ada kriteria yang harus konsisten diikuti para juri.

“Ketika dipertemukan dengan karya anak-anak kami bingung, kendatipun sudah ada kriteria. Wah ini bagus, ini bagus. Namun, kami tetap konsisten sesuai hasil technical meeting dan kesepakatan yang sudah didiskusikan sebelumnya,” jelas Mang Gases saat konferensi pers di Denpasar, Rabu (19/3/2025).

Karena berpegang dengan kriteria yang telah disepakati bersama, akhirnya dewan juri berhasil mengerucutkan penilaian. Oleh karena itu, didapatkan 16 besar karya ogoh-ogoh terbaik di Kota Denpasar yang berhak melenggang ke titik nol ibukota, Jumat (21/3/2025) ini.

Nah, berkenaan dengan pertanyaan soal ogoh-ogoh A, B, C yang dinilai bagus warganet namun tidak lolos 16 besar, Mang Gases menjelaskan bahwa ogoh-ogoh tersebut belum mengakomodir kriteria secara optimal. Di sisi lain, ada ogoh-ogoh yang dianggap ‘biasa’ tetapi berhasil mengikuti kriteria.

Beberapa kriteria kunci Kasanga Fest 2025 adalah ogoh-ogoh wajib mengambil bentuk santha rupa atau berwujud pewayangan Hindu Bali. Kemudian, mampu menjaga esensi ogoh-ogoh yakni dapat dipawaikan atau di-ogah-ogah.

“Oh, ini bagus. Tetapi ini adalah karya instalasi, karya patung. Jadi, dimentahkan kriteria. Dia bagus ketika menjadi ogoh-ogoh diam, berarti dia bukan ogoh-ogoh tetapi karya patung karena ketika diangkat, dia menjadi benda diam tanpa gerakan (goyangan),” tegas Mang Gases.

Begitu juga dari segi visualisasi yang dibatasi kriteria berbentuk pewayangan Hindu Bali. Kriteria ini memberi ruang penggarapan ogoh-ogoh raksasa, danawa, dewa, dan lain-lain. Namun, ada batasannya yakni bernuansa Hindu Bali entah itu dari segi penggambaran, atribut, dan lainnya.

“Ceritanya pewayangan Bali, namun di tengah-tengah ada budaya yang lain masuk. Contoh, (karakter) ogoh-ogoh ini payasan (ornamen) Bali, ini Bali, lantas ada satu (karakter) payasan-nya di luar budaya Bali, maaf seperti keindia-indiaan. Itu sudah lepas dari kriteria,” imbuh Mang Gases.

Seniman, budayawan, sekaligus akademisi Filsafat Hindu ini menegaskan bahwa dewan juri telah berhati-hati dalam proses penilaian. Untuk itu, Mang Gases berharap publik melihat kembali dengan seksama, kriteria apa saja yang diperlukan dalam penilaian Kasanga Fest 2025 ini.

Sementara itu, sesuai prosedur, penilaian, aspek ogoh-ogohnya telah mendapat porsi paling besar yakni 75 persen yang terdiri dari fisikoplastis seperti bentuk, anatomi, rancang bangun, dan lain-lain. Kemudian, 25 persen porsi penilaian dari aspek ide/konsep.

Kata Mang Gases, ogoh-ogoh yang dianggap biasa dapat mengungguli ogoh-ogoh yang dianggap bagus karena kalah di salah satu aspek ini, khususnya aspen ide. Sebab, ide/konsep tidak boleh diambil sembarangan, sumber atau literaturnya harus jelas.

“Bagus ogoh-ogoh ini tapi ide dia sudah kalah, 25 persen hilang. Cuma dapat 75 persen. Literaturnya tidak ada, sumbernya tidak jelas, kriterianya sudah dilanggar yang 25 persen meskipun (ogoh-ogohnya) bagus,” tegas Mang Gases yang juga Ketua Yayasan Gases Bali ini.

Di sisi lain, ada ogoh-ogoh yang dianggap biasa tapi tetap enak dilihat dan idenya sangat jelas. Kata Mang Gases, ogoh-ogoh yang biasa ini tidak menutup kemungkinan mampu mengungguli ogoh-ogoh yang dianggap bagus namun secara konsep/ide kalah atau telah kehilangan 25 persen nilai.

“Kebanyakan yang saya lihat generasi sekarang ini, ‘Nak, dapat cerita di mana? Kakek yang kasih. Di mana dapat literatur? Di internet, copy paste.’ Kami selaku dewan juri, ini menjadi sebuah catatan,” ungkap Mang Gases.

Mang Gases mengingatkan, sekaa teruna sangat boleh bereksplorasi. Kemauan ini sebaiknya dimulai dengan mengokohkan dasar berkreasi melalui pemahaman literatur atau sumber sastra, sebab yang dikreasikan adalah budaya Bali. Sehingga, esensi dan pesan dari ogoh-ogoh tidak hilang di masa depan.

“Kami khawatir ketika generasi muda ini berkreativitas tentang budaya Bali, kekhawatiran kami, ide dan imajinasinya sudah melampaui batas tapi lupa membuat pondasi yang kuat,” kata Mang Gases, seniman yang dikenal sebagai praktisi seni pecalonarangan asal Sesetan, Denpasar ini.

Meski begitu, Mang Gases yang juga Tim Ahli Pembangunan Kesenian dan Kebudayaan Pemkot Denpasar mengakui kriteria yang ada belum sempurna. Untuk itu, ia mengusulkan agar kriteria Kasanga Fest tahun berikutnya dapat dibuat sedetail-detailnya agar ada kesamaan persepsi. *rat
Read Entire Article