ARTICLE AD BOX
Pada hari pertama festival, lebih dari 10.000 wisatawan memadati area GWK yang berlokasi di Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Rabu (2/4) sore. Festival Ogoh-ogoh ini berlangsung sejak 2 April hingga 10 Mei 2025 dan melibatkan 13 Sekaa Teruna (ST) mewakili desa-desa di Kuta Selatan. Setiap peserta menampilkan ogoh-ogoh hasil karya mereka dan akan dipajang hingga hari terakhir festival.
Direktur Operasional GWK Cultural Park, Ch Rossie Andriani menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat terhadap festival ini meningkat. Sejak siang, area festival dipadati ribuan orang baik warga lokal hingga wisatawan asing. “Hari ini (Rabu) saja tiket untuk masuk ke area festival ogoh-ogoh telah terjual lebih dari 10.000, mungkin juga bertepatan harinya dengan lebaran sehingga bertepatan dengan libur panjang, sehingga banyak warga atau wisatawan dapat menikmati itu,” ujar Rossie ditemui di Lokasi, Rabu malam.
Dia melanjutkan jika meningkatnya jumlah pengunjung juga dipengaruhi oleh momentum libur panjang Lebaran. Angka itu kata dia, jauh lebih tinggi dibandingkan hari-hari normal yang hanya mencapai sekitar 3.000 pengunjung per hari. Sementara, pada hari-hari besar seperti Natal dan Tahun Baru, jumlah kunjungan tertinggi biasanya mencapai 8.000 orang. Namun, untuk festival ini, angka tersebut telah terlampaui sejak hari pertama.
“Potensi tahun ini, kalau hari-hari biasa normalnya 3.000 pengunjung per hari, dominasi masih tetap di domestik, 85 persen domestik, 15 persen mancanegara. Kalau di hari-hari besar seperti Natal dan Tahun Baru, itu tertingginya 8.000-an, kalau hari ini pasti lebih. Kalau dibanding hari normal naik dua kali lipat,” jelasnya.
Rossie menceritakan, festival ini mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Sejak pertama kali digelar pada 2019, penyelenggaraan sempat terhenti akibat pandemi Covid-19 pada 2020 dan digantikan dengan lomba sketsa ogoh-ogoh secara daring. Pada 2023, festival ini kembali hadir dengan menampilkan pertunjukan seni. Tahun ini, festival lebih berfokus pada partisipasi banjar-banjar di Kuta Selatan. Selain festival ogoh-ogoh, GWK juga menggelar bazar UMKM bernama MyMelali GWK Market yang berlokasi di Lotus Pond. Bazar ini, kata Rossie, bertujuan untuk mendukung perekonomian warga sekitar dengan menyediakan marketplace bagi produk lokal.
Sementara disinggung soal tiket masuk wisatawan, Rossie mengatakan untuk menikmati festival ini dibanderol Rp 50.000 untuk presale, sementara harga reguler tetap mengikuti tarif masuk GWK. Untuk diketahui, pada hari pertama festival juga diadakan lomba ogoh-ogoh dari 13 Sekaa Teruna yang terlibat. Hasilnya, Juara I diraih oleh Sekaa Teruna Ekarnawa Yowana dari Banjar Pande Bualu, Juara II oleh Sekaa Teruna Bakti Dharma dari Banjar Kangin Pecatu, dan Juara III diraih oleh Sekaa Teruna Widya Dhaarma dari Banjar Tengah Pecatu. Sementara Juara Favorite diraih oleh Sekaa Teruna Dwi Graha Yowana dari Banjar Bale Kembar Bualu dan Sekaa Teruna Satya Yowana Jagadhita dari Banjar Wanagiri.
Hadiah lomba ogoh-ogoh yang diperebutkan totalnya mencapai Rp 27,5 juta, ditambah hadiah hiburan lainnya sehingga totalnya mencapai Rp 30 juta. Rossie berharap, agar festival ini dapat terus berkembang dan menarik lebih banyak peserta. “GWK selalu berkomitmen untuk mendukung kelestarian budaya Bali. Kami menyediakan wadah bagi para seniman untuk berkolaborasi dan menampilkan karya terbaik mereka,” pungkasnya. 7 ol3