ARTICLE AD BOX
Dalam survei cepat yang dilakukan IVENDO Bali terhadap 44 pelaku industri event, tercatat bahwa 750 event diperkirakan terdampak hanya dalam tiga bulan pertama tahun 2025. Jika tren ini berlanjut, potensi kerugian diestimasi mencapai Rp3,15 triliun sepanjang tahun. Tak hanya itu, sekitar 2.500 tenaga kerja tetap dan tidak tetap berada di ujung tanduk kehilangan penghasilan, menyusul pemangkasan besar-besaran anggaran perjalanan dinas, rapat, dan seminar pemerintah.
Ketua DPD IVENDO Bali, Grace Jeanie, menyebut kebijakan ini justru bertolak belakang dengan semangat pemulihan ekonomi pasca-pandemi. “Industri event adalah tulang punggung ekonomi kreatif di Bali. Jika event-event besar dibatalkan atau dikurangi anggarannya, maka bukan hanya EO yang terdampak, tetapi juga vendor, hotel, UMKM, dan ribuan pekerja,” ujar Grace, Jumat (21/3/2025).
Lima Usulan Strategis dari Bali
Merespons situasi ini, IVENDO Bali merumuskan lima usulan strategis kepada pemerintah pusat agar efisiensi anggaran tetap dapat dijalankan tanpa mematikan industri event:
- 1. Revisi Implementasi Inpres Efisiensi
- Pemerintah diminta mempertimbangkan dampak ekonomi turunan dari pembatalan event. Kegiatan yang mendukung ekonomi lokal tetap bisa difasilitasi dengan skema efisiensi yang lebih selektif.
- 2. Relaksasi Perizinan dan Pajak
- Penyelenggara event diusulkan diberikan keringanan pajak dan penyederhanaan proses perizinan, terutama event yang melibatkan UMKM dan pekerja lokal.
- 3. Skema Pembiayaan Inklusif
- IVENDO Bali mengusulkan adanya relaksasi pembayaran bunga dan penundaan cicilan pokok kredit bagi pelaku industri event yang tengah terikat pinjaman perbankan.
- 4. Dorongan Digitalisasi dan Event Hybrid
- Pemerintah dapat mendukung transformasi ke arah event virtual atau hybrid, yang tetap memberikan dampak ekonomi sambil menekan biaya penyelenggaraan.
- 5. Kolaborasi Swasta dan Pemerintah
- Mendorong model kemitraan public-private partnership (PPP) agar penyelenggaraan event tetap berjalan, meski dukungan anggaran negara berkurang.
Selain lima usulan tersebut, IVENDO Bali juga mendorong diversifikasi pariwisata dengan mengembangkan sektor pelengkap seperti wellness tourism, guna memperluas basis ekonomi Bali di luar MICE.
“Pemerintah perlu melibatkan pelaku industri secara langsung dalam meninjau ulang kebijakan ini. Jangan sampai efisiensi jangka pendek justru menciptakan krisis ekonomi jangka panjang,” tegas Grace.
Menurut studi Oxford Economics, industri event global menyumbang USD 2,5 triliun dan menciptakan 26 juta lapangan kerja. Di Indonesia sendiri, sektor ini berkontribusi Rp120 triliun terhadap PDB nasional dan menopang 278 ribu pekerja.
“Kalau di Bali, dampaknya bisa berlipat karena event bukan sekadar kegiatan, tapi juga penggerak pariwisata dan ekonomi kreatif,” tambah Grace.
IVENDO Bali berharap pemerintah pusat tidak sekadar memangkas anggaran, tapi juga merumuskan skema perlindungan bagi sektor yang terdampak langsung. Tanpa langkah korektif, Bali bisa kehilangan salah satu tumpuan utamanya dalam pemulihan ekonomi.